ANTIVIRUS LOKAL INDONESIA ARTAV
ARTAV = Arrival da Taufik, ya mereka adalah pembuat antivirus lokal indonesia.
Dalam membangun Artav, Arrival dan Taufik melakukannya bersama-sama, termasuk dalam mengumpulkan
database virus. Tapi secara umum, otak program ada di kepala Rival yang lebih banyak mengerjakan
coding dan
programming. Sedangkan Taufik yang saat ini duduk di kelas II SMA 25 Bandung berkonsentrasi di sisi
interface dan desain tampilan.
"Pengembangan program sudah sering dilakukan. Mulai dari banyak
error
sampai penambahan fitur-fitur. Tapi kalau dari segi tampilan, kami
melakukan tiga kali perubahan sampai akhirnya menemukan nama Artav,"
kata Taufik yang mengerjakan hampir semua detail tampilan Artav.
Sementara
Rival bertugas membangun program dari nol dengan menggunakan program
Visual Basic yang dikuasainya secara otodidak. Selama setahun terakhir,
Taufik dan Rival juga mengumpulkan
database virus dari satu warnet ke warnet lain. "Virus itu kan biasanya beredar di warnet lewat internet dan
flash disk," kata Rival mengemukakan alasan pencarian virus lewat warnet.
Terlebih, lanjutnya, virus yang sulit dikenali dan dibasmi biasanya berasal dari
virus lokal yang
database-nya
belum dimiliki program antivirus luar negeri. Jadi perburuan langsung
ke lapangan merupakan cara paling efektif dalam membangun
database virus, khususnya virus buatan
programmer Indonesia.
Setiap
pulang kerja, Rival menyempatkan mendatangi warnet-warnet di sekitar
sekolah. Dia menghabiskan waktu dua jam di warnet, lalu melanjutkan
penelitiannya di rumah hingga malam hari. Karena sering bolak-balik
untuk mengumpulkan virus, beberapa penjaga dan pemilik warnet
mengenalinya dan dengan senang hati membantunya.
"Kalau warnet yang sudah dikenal, saya biasanya nitip
flash disk (untuk menampung file bervirus). Pulang sekolah
flashdisk bervirus itu saya bawa pulang," cerita Rival.
Dalam sehari, anggota forum gim
online
Nyit Nyit ini mampu mengumpulkan hingga 20 virus. Setelah terkumpul,
virus itu dibawa ke rumah untuk diteliti dan diambil algoritma virusnya.
Pekerjaan mengumpulkan dan mengecek virus juga dibantu oleh teman-teman
kelasnya. Teman-temannya di komunitas Kaskus juga ikut membantu
melakukan tes periodik virus-virus yang telah dikumpulkan.
Saat
ini, antivirus Artav mampu mengidentifikasi dan mengatasi 1.031 jenis
virus dan ratusan ribu varian lainnya. "Enam puluh persen
database virus yang ada di Artav merupakan virus lokal," kata Rival kepada
Kompas.com, akhir minggu lalu.
Keluarga Sederhana
Melihat
keberhasilan putra pertama dan kedua pasangan Herman Suherman dan Yeni
Soffia ini dalam mengembangkan program antivirus Artav, sulit menduga
keduanya berasal dari keluarga biasa yang tinggal di jalan Bojongsoang
72, Bandung, Jawa Barat. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ayah mereka
hanya mengandalkan penghasilan dari reparasi HP yang dibuka sejak tahun
2003. Sedangkan ibunya sehari-hari bekerja sebagai Kepala Sekolah TK.
"Sekarang buat makan saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai sekolah mereka," kata Herman.
Meskipun
berasal dari keluarga biasa, bakat mengolah komputer mereka dapat dari
sang ayah yang lulusan STM Elektronika 2 Bandung (sekarang SMK 4).
Sebelum kena PHK berjemaah, Herman pernah bekerja sebagai supervisor dan
programmer panaset Panasonic di PT Inti. Maka tak mengherankan kalau kedua putranya sudah akrab dengan komputer sejak kecil.
"Taufik kenal
komputer sejak kelas III SD. Kalau Arrival kelas I SD," cerita Herman tentang bakat kedua putranya.
Dari
keduanya, antusias Rival dalam mendalami program komputer terlihat
lebih besar. Saat duduk di kelas III SD, dia sudah fasih mengoperasikan
Windows. “Kelas V, Rival sudah mengotak-atik komputer. Dia juga sudah
bisa merakit dan men-
setup Windows sendiri,” tutur sang ayah.
Rival
mengaku mendalami ilmu komputernya secara mandiri, dibantu bimbingan
ayah dan dukungan ibunya. Selain mencari referensi di internet, Rival
selalu mencatat judul-judul buku yang dibutuhkan untuk diserahkan ke
ibunya. Setiap kali mendapat 'daftar belanjaan', sang ibu yang juga
gemar membaca buku membelikan buku komputer dan antivirus untuk putranya
di toko buku terdekat. "Kalau ada buku yang saya butuhkan, saya titip
ke ibu dan minta dibelikan di toko buku," ujar Rival.
Lewat upaya
menuntut ilmu sendiri ini, Rival bisa membuat program sederhana seperti
program pemutar musik MP3 dan Pelacak Virus (
virus scanner) meskipun belum tamat SD. Saat duduk di bangku SMP, penggemar gim
online ini terus mendalami kemampuannya menggunakan Visual Basic untuk membuat program-program dan kode gim.
Artav Premium
Saat
ditanya hambatan yang sering dihadapi dalam membuat Artav, Taufik dan
Rival dengan santai menyebut faktor mati lampu yang kerap membuatnya
harus mengulang pekerjaan yang sudah disusun berjam-jam sebelumnya.
Pencarian
database virus juga merupakan tantangan tersendiri yang sampai saat ini masih terus disempurnakan.
"Saya juga belum begitu mengerti soal jaringan. Makanya mau banyak belajar soal internet
security dengan Pak Onoo (Onno W Purbo)," tutur Rival menyebutkan kesulitan yang dihadapi.
Dengan
kelebihan yang telah dibenamkan ke dalam Artav, baik Taufik maupun
Rival optimistis program aplikasi ini akan menjadi nomor satu. Saat ini
saja, Rival yang bercita-cita memiliki perusahaan sekaliber Microsoft
sudah mendapat beasiswa sekolah dan hadiah laptop dari operator seluler
XL sebagai salah satu bentuk dukungan. Pihak ITB sudah menyatakan
kesediaannya membantu pengembangan program.
Ke depan, mereka
berharap dapat merilis versi premium dengan keunggulan lebih
dibandingkan aplikasi gratis yang saat ini sudah sampai versi 2.5.
sumber : http://tekno.kompas.com